Kenaifan Seorang Bocah Dari Jepara

Semalam aku mbantal 5 jam 20 menit

Umur ini yang semakin merenta, keterbatasan daya ingatku juga semakin menampak. Untunglah ada seorang sahabat lama yang mengingat beberapa lembar kisah kehidupanku tempo dulu, mulai dari yang mulia sampe yang rusak sekalipun.

Siapa sih yang nggak pernah naif? Pasti dalam satu titik dalam kehidupan kita, ada masa dimana kita bergelagat naif luar biasa. Pahlawan pembela kebenaranpun mungkin kalah pamornya kalau dihubungkan dengan kegigihan kita membela idealisme pribadi, contohnya ngomong kalau “Gak perlu duit, yang penting cinta!

Ah gombal…

Anyway, barusan tadi dinihari jam 1, sohib lama saya Messach mengingatkanku kembali kepada sesi wawancara kerja yang aku hadapi ketika sedang mengadu nasib di kota Surabaya.

Lupa-lupa ingat sih diriku, tetapi dia berkata kalau wawancara itu begitu inspirasional-nya sampai tak mungkin terlupakan olehnya.

Jadi ceritanya sewaktu aku mendekam di kota kecil Jepara, ada tawaran kerja di Surabaya, dan akupun berangkat untuk wawancara.

Datang dengan pakaian kebesaranku aka kaos oblong di-dobel dengan kemeja yang dikancingkan setengah, plus jean kusem dengan sepatu ket.

Sementara para pelamar kerja lainnya yang berdasi bercelana formal, dengan sepatu mengkilap pun duduk berjejer membarisi dinding.

Resepsionis-nya, yang kemudian aku paham adalah Istri dari juragan perusahaan tersebut, memandangku dengan ragu, dan mungkin sempat berpikir “ini pembeli, sales, pelamar kerja atau preman?” tapi berhubung mustahil kalo orang keturunan Cina Imut begini jadi preman di Surabaya, maka dia senyumin saja diriku ini. Akupun tersenyum balik… “mau wawancara, Tan.”

Singkat cerita akupun mulai berdialog dengan si Juragan, dan sampai satu point dia bertanya, “Bisa pake Flash nggak?” — biasanya orang kan jawab “sedikit-sedikit pak” atau “belajar, dan saya cepat nangkapnya” atau seputar omong-kosong lainnya yang biar nggak dipikir bego-bego amat gitu lah.

Dengan super PeDe “Oh, tidak bisa Pak… itu kan bukan bagian saya.” jawabku tegas.

Beberapa pertanyaan bergulir lagi… kemudian..

Jadi masalah gaji, kamu masih minta sesuai yang kamu berikan di surat lamaranmu?

Iya pak, 3.5 juta per bulan :D” dengan senyumku yang paling manis.

Maklum, saya dari dusun, yang gelar saja tidak punya selain lulusan SMA; dan mana saya tahu kalau upah standard anak design lulusan kuliah itu paling berkisar di sekitar 1 juta waktu itu?

Tentu saja aku nggak mendapatkan sebanyak itu, setelah sedikit bernegosiasi akhirnya kamipun sepakat memutuskan sebuah angka yang jauh dibawah 3.5 itu, tetapi bisa aku terima.

Singkat cerita lagi, akhirnya aku langsung diterima, dan…

Jadi kapan kamu bisa mulai masuk kerja? Besok bisa?” — lagi lagi, biasanya orang kan pasti bilang “Bisa pak! Terima kasih banyak!” atau misal perlu waktu untuk keluar dari pekerjaan lamanya, 1 minggu adalah patokan yang lazim kan?

Aku menjawab: “Ya ndak bisa tho Pak… kan saya mesthi pindahan dulu, angkut-angkut barang dari Jepara, nyari kost, dll dsb…. bulan depan bisa pak?”

Entah yang gila itu siapa, akhirnya aku tetap saja di terima di perusahaan itu. Perusahaan kecil yang menyenangkan dan giat. Tempat dimana aku belajar banyak hal dan pengenalan kepada ladang untuk mencari peluang bisnis dan negosiasi. Belajar menjadi seorang Biksu kepada para kostumer dan lain-lain sebagainya.

Sebetulnya aku sama sekali tidak mengingat lagi peristiwa maupun percakapan ini pernah terjadi pada tahun 2004 silam, tetapi sekarang semua seperti kembali lagi muncul di kepalaku. Kalau nggak salah, aku akhirnya pindah Surabaya bulan Maret tanggal 15, 2004 =))

Penutup cerita yang gak kalah hebatnya, di suatu malam, hari kedua setelah aku bekerja, aku mengirimkan SMS kepada sahabatku ini yang isinya:

Selamat kepada Octavianus Asoka, hari pertama dan kedua masuk kerja, telat!!! $@^@&#*$^#%@!!

Telat dikarenakan aku masih belum bisa mengira-ngira jarak tempuh dari tempat kost ke tempat kerja… berjalan kaki…

Ah… ternyata aku dulu senaif itu; Dan kayaknya sekarang masih sama deh :) — namun yang lebih penting lagi, I’m proud to be me. Aren’t we all unique in our own way?

Mau Baca Postingan Terbaru Lewat Email?

30 thoughts on “Kenaifan Seorang Bocah Dari Jepara”

  1. wkwkwkwk…..berapa kali aku inget2 cerita ini dan berkali2 aku ceritain ke orang lain….sebetulnya semuanya kasi komentar satu….EDIAN!!…tapi dari keedanan itulah yg membuat kisahmu ini jadi inspirasional….makan tuh kemeja formal, dasi, sepatu mengkilap, gelar sarjana, modal PDmu itu yg bikin kamu malah diterima…..wkwkwkwkwkwk…..crut…..

  2. wew, kok pede tenan sampeyan mas? :lol:

    jaman segitu saya sudah mburuh setahun lebih di probolinggo, sudah lewat berapa tahun saya cuma geser sedikit ke pasuruan, sedangkan sampeyan sudah sampe amerika. manteb tenan!

    1. yah, namanya juga bernasib baik :) … bisa hidup beli beras aja sudah ngucap syukur ya tho?

  3. asik akhirnya nulis lagi :p

    kayaknya perlu dipraktekin nih cara ngejawab wawancaranya :P.. sadis amat

    mungkin dicara kamu menjawab terlihat sisi kepolosan dan kejujuran di dirimu + kenaifan mungki itulah nilai lebih yang ngebuat kamu diterima kerja disana :P

    musti di praktekin nih.. beberapa bulan lagi juga mau wawancara magang :P

    1. satu saran: jangan…. wkwkwk — tapi yang penting memang jujur aja, jangan terlalu berlebihan x_X

    1. Kalo dandanan gak deh… berhubung sekarang sudah ngerti aturan baku proses wawancara haha… kecuali aku segitu pedenya untuk bisa mempesona para tukang interogasinya…

  4. ya oloh..mas bantal..bejo kali dirimu yah..ckck..hebat deh..bener2 inspiring..aku bisa bayangin dengan gaya cuek ogah2an gitu datang interview..xixiixi..pede sangat! jawabnya juga jujur banget! hihi..mungkin si juragan dah melihat itikad baik dari jawaban2 rasional mas tadi ya makanya ketrima..
    salut deh…

    1. haha makasih lho atas penghargaanya. ogah2 an juga nggak sih, cuman kelewat klowor mungkin lebih tepat xD

  5. woww… epic…

    pasti juraganmu itu orang yang senang tantangan hahaha…

    klo gw jd interogatornya pasti mikir,”mimpi apa gw smalem ktemu org ky gini..udah gitu gw trima pula…ntah siapa yg gila..” wkwkwkk

    1. polos itu gampang di apusi… naif itu berpikir segala sesuatu adalah baik dan percaya terhadap semua hal akan berjalan sesuai dengan idealisme kita huahaha… mungkin begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *