Menghidupi Hidup Ini

Kita hidup bukan untuk mati.” — entah kenapa perkataan Pendeta itu terus terngiang dalam kepalaku akhir-akhir ini. Ada titik-titik yang lebih penting dalam hidup kita ketimbang titik A (kelahiran) sampai ke titik B (kematian); Yaitu setiap titik-titik yang tersebar di antara keduanya. Titik yang mewakili setiap nilai kehidupan kita.

Ceritanya nih, berapa banyak dari kita yang sadar dan merasakan hempasan berita-berita besar yang akhir-akhir ini terkumandangkan lewat layar kaca, radio, koran, internet dan lainnya? Bencana alam, perang, politik, konflik, dan sebagainya.

Menyikapi fenomena tersebut, ada 3 tipe orang tentunya. Satu, yang terus mengikuti perkembangan berita dengan semangatnya dan ikut melibatkan diri; Dua, yang sekedar tahu tapi tetap adem-ayem saja dan bersikap netral; dan Tiga, yang cuek bebek, seolah-olah dunia mau gempar seperti apa, dia tetap berjualan nasi tahu dengan santainya (no offense buat para penjual nasi tahu lho ya.. hanya contoh).

Memang suka-suka kita mau menghidupi hidup ini seperti apa. Aku sebelumnya juga berkata: “Ah, semua berita isinya jelek-jelek doang… daripada stress mending ga usah dipikirin deh… enjoy aja,” mengingat sudah bertahun-tahun tidak pernah nonton televisi (berita), apalagi baca koran…

Tetapi makin lama kok rasanya makin salah ya? Apakah benar bagi kita untuk menutup mata kepada dunia?

Benar adanya kalau kita berkata “Kan sudah ada yang ngurusin negara, tuh DPR, MPR, Presiden… suara kita toh gak pernah di anggap” — tapi apakah terus itu menjadi alasan kita memisahkan diri dari peran kita sebagai contohnya, seorang penduduk Indonesia terhadap perkembangan Negara Indonesia itu sendiri?

Kalau di ilustrasikan mungkin itu seperti seorang anak yang berkata kepada Orang Tua-nya: “Mam, Pap, berikan aku makan, beri aku uang jajan, dan cukup, diamlah.”

Kejadian demi kejadian besar yang terjadi kurang lebih semenjak dua dekade yang lalu, sepertinya menjadi semakin besar sehingga hampir tidak mungkin lagi untuk tidak di hiraukan, terlebih lagi dengan adanya fasilitas media jejaring sosial online yang sanggup menyalurkan berita terbaru dalam waktu kurang dari 5 detik (tergantung kecepatan tangan yang ngetik di Twitter sih).

Terlepas dari itu semua, pernah gak kita berpikir seperti ini.

Contohnya, di Indonesia: Lengsernya kekuasaan Soeharto, revolusi dan reformasi negara dari Orde Baru, Tragedi Mei 1998, Presiden Wanita pertama di Indonesia, Lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Gunung Merapi, Bom Bali, etc… hingga ke Mancanegara: Tragedi 9/11, Perang Afgan, Presiden Kulit Hitam pertama di USA, Gempa tertinggi dalam sejarah dunia di Jepang, Tsunami, Pernikahan Megah Kerajaan Inggris, Kematian Raja Pop Michael Jackson dan juga pemimpin Al-Qaeda, Osama Bin Laden — Itu semua adalah hal-hal yang begitu besar dan dengan jelas akan menorehkan tulisan terdalam di lembaran sejarah dunia.

Kemudian kita; kita hidup dan melewati itu semua. Kita hidup di dalam era dimana kita akan menjadi bagian sejarah terbesar dunia ini di masa depan. Sementara suatu hari nanti kalau kita melihat ke belakang, apa yang akan kita lihat dari kisah kehidupan kita sendiri saat ini? Tenggelam dan hanya menjadi penonton saja?

Sepertinya memang sudah saatnya buat setiap kita untuk mulai membuka mata dan hati. Jadilah peduli, mulai dari hal-hal yang kecil di lingkungan rumah, kota, propinsi, negara dan sampai ke dunia.

Ada baiknya juga bukan hanya sekedar mengetahui atau up-to-date, tetapi juga bergeraklah, jadilah bagian dari kisah sejarah yang akan terus berjalan. Bantuan dana, tenaga, doa, ataupun aspirasi, apapun juga yang bisa kita salurkan, biarlah itu menjadi respon dan tanda bahwa kita pernah hidup di saat ini.

Jangan jadi pesimis, sarkatis atau pencibir lah… Hal-hal kecil yang bisa kita lakukan itu berarti. Seperti earth-hour, penggunaan kantong plastik, penanaman pohon, bakti amal, sukarelawan bagi korban bencana alam, bukankah lebih baik kita menyalurkan tenaga dan pikiran kita untuk mendukung hal-hal sederhana seperti itu, daripada menghabiskan otak dan waktu memeras keringat untuk menganalisa dan memikirkan penyangkalan ilmiah demi membuktikan kalau semua aktifitas itu adalah bodoh dan tidak berguna?

Contohnya: “Halah, semua-semua di kaitkan dengan global warming… Emang botol plastik bisa nyelametin dunia? Hahaha… dasar bodoh, naif.”

Sikap negatif… sikap seperti itu apa gunanya toh?

Jangan jadi manusia acuh. Atas dasar apapun baik kemanusiaan, kepedulian sosial ataupun merupakan salah satu bentuk ibadah dari Tuhan yang kamu percaya, jadilah sedikit aktif terhadap lingkup sosial. Lihatlah sekelilingmu, ambil peranmu, jalankan panggilanmu, dan hidupilah hidup ini, yang kelak akan menjadi sebuah sejarah kita bersama-sama dengan negara dan dunia ini tempat kita berpijak.

Gaya banget ya postingan gua kali ini, macam social activist aja, ckckck…

Terinspirasi dari quote di sini.

Mau Baca Postingan Terbaru Lewat Email?

16 thoughts on “Menghidupi Hidup Ini”

  1. aku sebenarnya mulai nggak peduli dengan dunia sekitar. :p rasanya berita di Indonesia jelek2 ya? :( tapi kalau soal peduli dengan lingkungan sekitar, itu aku setuju banget. setidaknya aku berusaha bawa tas kain sendiri waktu belanja. juga sudah lama aku memilah sampah. yah, setidaknya dua hal itu cukup konsisten aku lakukan. hehehe… tapi yeah, memang kita selayaknya benar2 menghidupi hidup yg sudah dianugerahkan kpd kita.

    1. Memang kadang menyedihkan sampe bisanya cuman ketawa doang… khususnya masalah politik. Tapi nggak sebatas itu aja kan, banyak hal-hal besar yang membutuhkan perhatian kita, terutama bencana-alam, restorasi dan rekontruksi, dan peduli lingkungan seperti yang kamu lakukan (hebat, aku gak setelaten itu lho hahaha), dan kalau rakyatnya udah nggak peduli, apa jadinya sebuah negara :|

    1. Kok nanya-nya udah makan? Kayak sekalian “Obatnya udah di minum?” wkwkwk…. postingan yang aneh ya lol.

      Aku juga dalam proses kok Mbak, sebelumnya juga peduli setan sama lingkungan haha…

  2. Kalau mau berubah, start with what you have and you can do. Ga usah mikirin hal-hal ga masuk akal yang bukan kuasa kita untuk melakukan / kita ga punya. Small things matter. I’m learning to give joyfully (not stressed up karena punyaku ga signifikan) the 2 small fishes and 5 small bread that i got in my hand. :D

  3. memang susah sih membuktikan, tapi saya percaya hal sekecil apa pun yang kita lakukan itu ada pengaruhnya, setidaknya pengaruh pada diri kita sendiri :-)

  4. Kita bisa diam saja
    Tidak Melakukan sesuatu
    Tidak Terjadi Perubahan

    Kita Bisa banyak bicara
    Tidak melakukan sesuatu
    Tidak Terjadi Perubahan

    Mari tanpa banyak bicara
    Melakukan yang kita bisa
    Maka perubahan akan terjadi

    -RKL-

  5. senangnya bisa kembali membaca tulisan terbarumu Mas Bantal, jadi inget rumahceritaku yang kian melompong. beh, tulisane makin mantapzzz nok. saluuuuuutttt :D

  6. Padahal jika hal kecil yang sepele, seperti menanam pohon tapi dilakukan oleh manusia di seluruh dunia pasti pengaruhnya besar yaa. Maka janganlah berpikir apa yan gkita lakukan tak berguna, karena jika semua orang berpikir gitu ya ndak ada perubahan :)

    Kalo urusan politik, hah ra melu-melu deh, berantakan! :(

  7. satu kepala yang sadar dandapat memberdayakan kefahamannya akan hidup bertanggungjawab, biak pada laam dan kelangsungan generasi dikalikan dengan manusia2 lainnya didalamjejaringnya akan membantu merubah pola pikir dankebiasaan hidup buruk menjadi ramah lingkungan dan dampaknya akan terasa..

    Negativity in any kind.. will result to ignorance, ignorance leads to unwillingness towards change..

    let those dinosaurs continue as you can go empowering positivity to the next person, you know well that dinosaur did extincts, therefore people with such mentality will follow same..

    nice reading this one.. continue doing the good stuff as it travels fast to Iraq.. yes, that Iraq that still blowing…

  8. ah, mantap postingannya. aku jg sbenarnya dah dari duluuu bgt ga mau cuek, mau peduli. tapi selalu terasa ada penghalang… gmn mendobrak penghalangnya ya? rasanya ga berani terus, selalu pengecut… :(

  9. heheheh telat ini postingan terakhir di bulan mey 2011, skr udah oktober. berarti ini yg pertama kalinya aku berkunjung ke blogmu di tahun 2011. si empunya masih ngebantal kah??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *