Nyoblos, Ngga Nyoblos Sama Aja? Yakin?

Hari ini di Amerika Serikat adalah hari midterm election, atau bisa dibilang pilkada?

Diadakan bukan untuk memilih presiden, tetapi memilih sekelas DPRD, DPR, MPR, dan seterusnya.

Seharusnya gampang kan ya? Kalau 1,000 orang milih si A, dan 900 orang milih si B, harusnya A yang menang kan? Tapi nggak lho, bisa saja si A kalah… cara ngitungnya ternyata agak njlimet, saya sendiri kurang paham, dan gak berminat menjelaskan.

Yang mau saya tulis itu tentang hak kita sebagai pemilih, ngga di Indonesia, ngga di belahan dunia lainnya.

Perlukah kita memilih? Berfaedah kah? Ngaruh kah? Kadang males kan, bukan hanya karena ngga jelas cara hitungnya, terlebih lagi kalau kandidatnya ngga ada yang bener semua (nah ini…)

Semakin banyak gerakan “Non partisan” atau kubu netral, yang tidak memihak karena sudah hilang harapan dengan polemik di politik. Nda urusan lagi. Selama kita taat pajak, jadi warga yang baik, ngga peduli lah siapa pemimpinnya, toh hasilnya sama saja.

Saya sempet sih mikir begitu, terutama di pemilu presiden 2 tahun lalu. Jadi gimana? Perlukah? Haruskah? Jelekkah bila kita ngga memilih?

Ada yang bilang kebebasan untuk memilih ada hak, dan adalah hak masing-masing untuk tidak memilih. Betul.

Ada yang bilang, dengan tidak memilih, kita tidak menghargai usaha mereka yang berjuang untuk memberikan hak pilih ini kepada kita. Betul.

Ada yang sampe bilang, just choose the lesser of two evils (yang bejadnya lebih sedikit dari yang satu). Betul juga…

Tinggal kembali ke prinsip kita masing-masing.

Jadi pertanyaannya: kenapa memilih?

Karena negara ini adalah rumah kita. Kalau gentengnya bocor, siapa yang manggil tukang buat betulin? Tetangga? Ya kita lah…

Entah telpon tukangnya langsung atau telpon perusahaannya kalau kita ngga kenal sama tukangnya.

Gimana kalo perusahaan atau tukang di kota kalian reviewnya jelek semua? Misal reviewnya mereka cuma nilai 3/10 dan 5/10?

Ya tentu pilih yang 5/10, dan tukangnya tetap perlu dipantau kerjanya; atau alih-alih kita belajar dan betulin genteng sendiri.

Jangan hidup dengan mental anak kos yang penting kamar tidur ngga bocor dan kalo rumah ambruk tinggal cari kos-kosan baru.

Kalau ternyata tukang yang betulin rumah kita bukan tukang yang kita pilih? Ya itulah yang namanya demokrasi… pemilik rumah ini bukan hanya kita.

Mungkin beda pilihan, selera dan gaya, tapi tujuan kita harus satu: bikin rumah lebih baik dan aman. Bukan terus rame-rame hancurin semua gentengnya karena ngga suka sama tukangnya.

Pilihlah pemimpinmu. Baik partainya, orangnya, baca reviewnya dan pilih yang kira-kira sesuai dengan nilai-nilai kita, dari segi moral, finansial, spiritual, keluarga, dan lainnya.

Dan kenapa tidak sekalian belajar dan terjun ke dunia politik kalau kalian merasa bisa membawa komunitas ini lebih baik ke depannya?

Jadi, salah ngga, misal kita ngga mau panggil dan pilih tukang buat betulin genteng kita? Sampe bocor-bocor pake ember. Ngga salah sih… rumah-rumahmu sendiri. Cuman yo wagu wae… lucu.

Go vote!

Mau Baca Postingan Terbaru Lewat Email?

5 thoughts on “Nyoblos, Ngga Nyoblos Sama Aja? Yakin?”

  1. Memilih memang tidak wajib tapi merupakan tanggungjawab moral ya kan yaaa kak hehehe. Dulu saya golput, enggan memilih karena merasa tidak ada perubahan apapun. Tapi sejak pilkada beberapa tahun lalu itu saya sadar, saya harus memilih, sampai-sampai gegara telat bangun saya sikat gigi pakai pond’s bukan pepsodent :p

  2. Terkadang berada pada kondisi yang sulit untuk memilih. Misalkan, pilih calonnya atau partainya?

    Saya sendiri setuju, kalau sikap “golput” rasanya cenderung “lepas tangan” tidak mau tahu nasib kepentingan bersama pada masa mendatang, walaupun memang sosok yang diharapkan tidak ada pada semua calon.

    Saya teringat ucapan guru saya ketika SMA, “sampai kapan mau jadi penonton? saatnya kamu sendiri yang mengambil peran”. Namun, kita tentu tahu, yang namanya terjun ke dalam dunia politik bukanlah hal yang mudah, kita harus benar-benar siap “merelakan” diri kita untuk kepentingan bersama, termasuk keluarga dekat disekitar kita pun harus siap.

    1. Coba’an hidup terberat ketika orang tua pilihannya beda sama kita, dan tiap hari yang diomongin itu-itu saja :D – tapi ya, bener, tetap kasihilah mereka hahaha :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *